Patroli Pengawasan SDKP di Kecamatan Seram Utara dan Seram Utara Barat

Sawai,  18 Mei 2021 –

Pengawasan sumberdaya kelautan dan perikanan ditujukan untuk melindungi habitat, ekosistem serta aktifitas penangkapan  ikan yang merusak.

Destructive fishing  merupakan salah satuproses instant untuk mendapatkan hasil tangkapan dengan jumlah yang banyak dan proses yang cepat (potassium dan bom). Kegiatan ini sering di dijumpai pada berbagai wilayah perairan pantai meskipun jumlahnya sudah semakin berkurang namum kenyataan dilapangan masih saja ditemui pola penangkapan seperti ini.

Berdasarkan adanya laporan warga dan Pokmaswas setempat terkait dengan aktifitas penangkapan ikan yang merusak di perairan sawai dan sekitarnya pada Kawasan Gugus Pulau III maka, kami menindaklanjutinya dengan kegiatan Patroli Pengawasan bersama terkait dengan aktifitas penangkapan ikan yang merusak pada kawasan tersebut  yang berlangsung selama 2 hari 18-19, Mei 2021. Kegiatan ini berlokasi pada Kecamatan Seram Utara dan Seram Utara Barat melintasi perairan Desa Saleman, Sawai dan Negeri Administratif Besi dengan melibatkan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas Toha Putih Sawai), Babinsa setempat diketuai oleh PPNS, yang juga selaku Kepala Cabang Dinas Gugus Pulua III Bapak, Olsan Laitupa S,Pi, M.Si.

Saat gelar operasi, kami menemukan salah satu masyarakat nelayan yang sedang melakukan aktifitas penangkapan ikan dengan menggunakan alat bantu penangkapan ikan jenis kompresor dengan bahan kimia potassium. Seperti diketahui bersama potassium cianida merupakan salah satu bahan kimia, senyawa beracun yang digunakan untuk penanangkapan ikan. Hal ini tentunya akan berdampak pada ekosistem dan habitat sekitar seperti punahnya jenis ikan karang, ikan hias serta dampak negative  terhadap kehidupan terumbu karang.

Kurangnya kesadaran akan kelestarian lingkungan, serta minimnya informasi terkait status jeratan hukum bagi aktifitas  yang merusak lingkungan, sehingga membuat beberapa pelaku dengan kasus yang sama masih tetap lega untuk beroperasi.

Pada saat itu juga, kami melakukan pembinaan terkait dengan imbas dari penggunaan kompresor diantaranya bagi kesehatan dan keselamatan jiwa pengguna, bahkan dapat menyebabkan kelumpuhan sedangkan untuk penggunaan pottasium sendiri dapat berdampak pada kelestarian ekosistem sekitar. Kami pun memberikan peringatan jika kedapatan lagi menggunakan alat bantu penangkapan tersebut dengan bahan kimia beracun, maka kami tidak segan – segan untuk melakukan tindakan yang lebih keras berupa penyitaan barang bukti.

Tidak dapat dipungkuri bahwa hak ini menjadi dilema pemerintah sendiri, sebab disatu sisi Negara (Pemerintah) wajib menjamin keselamatan setiap warga negara begitu juga kesehatan setiap warga negara sedangkan disisi lain jika himbauan dan larangan penggunaan Alat Bantu Penangkapan Ikan berupa kompresor dipertegas, secara tidak langsung mematikan mata pencaharian nelayan itu sendiri. Namun kami sebagai aparatur pemerintah harus bekerja sesuai aturan yang telah ada. Pasal 9 ayat (1) UU No. 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan “Setiap orang dilarang memiliki, menguasai, membawa, dan /atau mengguanakn Alat Penangkapan Ikan dan / Alat Bantu Penagkapan Ikan yang menggangu dan merusak  keberlanjutan Sumberdaya Ikan di kapal penangkapan ikan di WPP Negara Kesatuan Republik Indonesia”

Penjelasan pasal 9 ayat (1) “ Alat Penangkap Ikan dan/atau Alat Bantu Penangkapan Ikan yang mengganggu dan merusak keberlanjutan Sumberdaya Ikan termasuk didalamnya jaring Trawl (pukat harimau), dan/ kompresor”.

Kami berharap,  dengan adanya temuan serta pembinaan ini dapat memberikan efek yang positif dan menjadi manfaat , maslahat bagi masyarakat nelayan sekitar dan para pelaku destructive fishing yang berada pada kawasan tersebut. Sangat penting bagi kita untuk menghargai sebuah lingkungan karena laut tidak pernah meminta, laut selalu memberi.

Di tempat terpisah Bapak Oslan Laitupa, S.Pi, M.Si selaku ketua tim dalam giat patroli pengawasan, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk lebih aktif dalam perlindugan terhadap ekosistem dan biota laut dan jangan segan-segan untuk melaporkan setip aktifitas atau pelanggaran yang terjadi di laut.       

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait